Jumat, 13 Januari 2017

0 Peracau

Kopi dan secangkir rindu

      Ada malam yang disulam cemas, ada gelisah yang tersublim dari pekat malam, ada usia yang kian ironi, terkapar dilantai waktu yang berdebu, memerih mengingat usia yang kian menua, ada takdir yang tak pernah berpihak, dan langit yang tak kunjung mersepon doa-doa. Semua memekat dalam secangkir kopi hitam yang kuteguk malam ini, dan rindu yang tak pernah tersampaikan ikut larut kedasar cangkir bersama ampas-ampas kopi.

      Menghirup bau kopi mengingatkanku banyak hal, ada rentang kenangan yang melintasi pikiran - dan jejak-jejak rindu yang sudah terpahat dimana-mana. Usia yang menua bereksistensi ditengah wajah-wajah sinis yang memandang laku hidupku yang selalu teralienasi, aku seperti kopi yang melebur bersama air, menyatu dalam rasa pekat tanpa pemanis. Sungguh, hidup seperti getir, seperti jejak-jejak pekatnya kopi yang masih terasa dilidah.

       Kopi dan secangkir rindu, wangi dan rasanya, seperti dua sisi dari koin yang sama, hidup seperti itu - ketersatuan yang bukan ilusi. Seperti juga usia dan kematian, menyatu dalam satu entitas, usia hanyalah angka-angka, hanya batasan keterpisahan antara jasad dan roh, dimana kematian hanyalah pergantian wujud dari dunia jasad kedunia roh, hidup akan terus berlanjut dalam dimensi yang berbeda.

      Kopi ini memang pahit dan pekat, mari tambahkan sedikit gula agar hidup tak melulu pahit, lalu nikmati sisa-sisa hidup dengan optimisme penuh keyakinan bahwa dunia tak akan berakhir hanya karena usia yang terus menua. (Rvhy)

Selasa, 10 Januari 2017

0 Peracau

"Tentang Cinta"

       Sebagai manusia, Kita terbiasa mengeja cinta bait demi bait dengan bibir yang komat-kamit menembus jantung-jantung peradaban lalu menjadikannya sebagai sarana untuk saling berinteraksi sesama manusia. Sebagai hamba Tuhan yang memang menyubjek dalam makro kosmos yang maha luas ini, kita menjadikan cinta sebagai kebutuhan fundamental yang tidak bisa lepas dari kehidupan sehari-hari, tanpa cinta apalah arti hidup ini, tanpanya hidup akan gersang, kering dari ruh Illahi. Tanpa cinta, kita tak ubahnya seekor binatang. Cinta adalah anugerah Ilahi yang diwariskan turun temurun ke anak cucu dari kakek Adam dan nenek Hawa semenjak menghuni firdaus hingga turun ke bumi.

        Dalam implementasinya, cinta ibarat dua sisi dari koin yang sama, cinta bisa saja melahirkan egoisme atau egosentrisme ala Qabil yang cenderung anarkis dan buta, ataupun cinta bisa pula menjadikan seseorang seperti Habil yang tunduk dan patuh pada aturan-aturan langit yang mengikat. Cinta melahirkan pilihan, Hitam atau putih, tak ada abu-abu. Karena sejatinya, manusia secara sadar terbagi dalam dualisme yang saling bertentangan. Lalu, dimanakah posisi kita?, apakah mempersepsikan cinta layaknya Qabil atau memilih untuk mencintai layaknya Habil?. Semuanya tergantung kesadaran diri dalam menafsirkan nilai-nilainya.

        Di era Modern, Pengagum Nietzsche ataupun Marx menafsirkan cinta selayaknya Qabil dengan isme-isme baru yang terlihat sedap dipandang mata, namun kering dari ruh Ilahi. Bagiku, "Cinta" meluber jauh dari keringat Nietzsche ataupun Marx yang telah meninggalkan nilai-nilai langit dengan mentradisikan materialisme sebagai berhala. Cinta tampak mengerikan dalam persepsi dua anak manusia ini! Hedonisme,Liberalisme, komunsime ataupun atheisme.

        Sudah sepantasnya kita tinggalkan cinta yang semu ala Qabil dan mencicipi manisnya cinta yang ditawarkan habil dengan menjadikan Allah Azza Wa Jalla sebagai puncak dari segala cinta, cinta tanpa syarat. 

Bismillah.
Diberdayakan oleh Blogger.