Ada malam yang disulam cemas, ada gelisah yang tersublim dari pekat malam, ada usia yang kian ironi, terkapar dilantai waktu yang berdebu, memerih mengingat usia yang kian menua, ada takdir yang tak pernah berpihak, dan langit yang tak kunjung mersepon doa-doa. Semua memekat dalam secangkir kopi hitam yang kuteguk malam ini, dan rindu yang tak pernah tersampaikan ikut larut kedasar cangkir bersama ampas-ampas kopi.
Menghirup bau kopi mengingatkanku banyak hal, ada rentang kenangan yang melintasi pikiran - dan jejak-jejak rindu yang sudah terpahat dimana-mana. Usia yang menua bereksistensi ditengah wajah-wajah sinis yang memandang laku hidupku yang selalu teralienasi, aku seperti kopi yang melebur bersama air, menyatu dalam rasa pekat tanpa pemanis. Sungguh, hidup seperti getir, seperti jejak-jejak pekatnya kopi yang masih terasa dilidah.
Kopi dan secangkir rindu, wangi dan rasanya, seperti dua sisi dari koin yang sama, hidup seperti itu - ketersatuan yang bukan ilusi. Seperti juga usia dan kematian, menyatu dalam satu entitas, usia hanyalah angka-angka, hanya batasan keterpisahan antara jasad dan roh, dimana kematian hanyalah pergantian wujud dari dunia jasad kedunia roh, hidup akan terus berlanjut dalam dimensi yang berbeda.
Kopi ini memang pahit dan pekat, mari tambahkan sedikit gula agar hidup tak melulu pahit, lalu nikmati sisa-sisa hidup dengan optimisme penuh keyakinan bahwa dunia tak akan berakhir hanya karena usia yang terus menua. (Rvhy)
