Sebagai manusia, Kita terbiasa mengeja cinta bait demi bait dengan bibir yang komat-kamit menembus jantung-jantung peradaban lalu menjadikannya sebagai sarana untuk saling berinteraksi sesama manusia. Sebagai hamba Tuhan yang memang menyubjek dalam makro kosmos yang maha luas ini, kita menjadikan cinta sebagai kebutuhan fundamental yang tidak bisa lepas dari kehidupan sehari-hari, tanpa cinta apalah arti hidup ini, tanpanya hidup akan gersang, kering dari ruh Illahi. Tanpa cinta, kita tak ubahnya seekor binatang. Cinta adalah anugerah Ilahi yang diwariskan turun temurun ke anak cucu dari kakek Adam dan nenek Hawa semenjak menghuni firdaus hingga turun ke bumi.
Dalam implementasinya, cinta ibarat dua sisi dari koin yang sama, cinta bisa saja melahirkan egoisme atau egosentrisme ala Qabil yang cenderung anarkis dan buta, ataupun cinta bisa pula menjadikan seseorang seperti Habil yang tunduk dan patuh pada aturan-aturan langit yang mengikat. Cinta melahirkan pilihan, Hitam atau putih, tak ada abu-abu. Karena sejatinya, manusia secara sadar terbagi dalam dualisme yang saling bertentangan. Lalu, dimanakah posisi kita?, apakah mempersepsikan cinta layaknya Qabil atau memilih untuk mencintai layaknya Habil?. Semuanya tergantung kesadaran diri dalam menafsirkan nilai-nilainya.
Di era Modern, Pengagum Nietzsche ataupun Marx menafsirkan cinta selayaknya Qabil dengan isme-isme baru yang terlihat sedap dipandang mata, namun kering dari ruh Ilahi. Bagiku, "Cinta" meluber jauh dari keringat Nietzsche ataupun Marx yang telah meninggalkan nilai-nilai langit dengan mentradisikan materialisme sebagai berhala. Cinta tampak mengerikan dalam persepsi dua anak manusia ini! Hedonisme,Liberalisme, komunsime ataupun atheisme.
Sudah sepantasnya kita tinggalkan cinta yang semu ala Qabil dan mencicipi manisnya cinta yang ditawarkan habil dengan menjadikan Allah Azza Wa Jalla sebagai puncak dari segala cinta, cinta tanpa syarat.
Bismillah.
Dalam implementasinya, cinta ibarat dua sisi dari koin yang sama, cinta bisa saja melahirkan egoisme atau egosentrisme ala Qabil yang cenderung anarkis dan buta, ataupun cinta bisa pula menjadikan seseorang seperti Habil yang tunduk dan patuh pada aturan-aturan langit yang mengikat. Cinta melahirkan pilihan, Hitam atau putih, tak ada abu-abu. Karena sejatinya, manusia secara sadar terbagi dalam dualisme yang saling bertentangan. Lalu, dimanakah posisi kita?, apakah mempersepsikan cinta layaknya Qabil atau memilih untuk mencintai layaknya Habil?. Semuanya tergantung kesadaran diri dalam menafsirkan nilai-nilainya.
Di era Modern, Pengagum Nietzsche ataupun Marx menafsirkan cinta selayaknya Qabil dengan isme-isme baru yang terlihat sedap dipandang mata, namun kering dari ruh Ilahi. Bagiku, "Cinta" meluber jauh dari keringat Nietzsche ataupun Marx yang telah meninggalkan nilai-nilai langit dengan mentradisikan materialisme sebagai berhala. Cinta tampak mengerikan dalam persepsi dua anak manusia ini! Hedonisme,Liberalisme, komunsime ataupun atheisme.
Sudah sepantasnya kita tinggalkan cinta yang semu ala Qabil dan mencicipi manisnya cinta yang ditawarkan habil dengan menjadikan Allah Azza Wa Jalla sebagai puncak dari segala cinta, cinta tanpa syarat.
Bismillah.

0 Peracau:
Posting Komentar